Newsletter Juni 2022 – Vol. 77

Informasi Seputar Medis

Kebocoran Data Rekam Medis, Bukti RUU PDP Penting Segera Disahkan

DPR dan Pemerintah diminta percepat pembahasan RUU Perlindungan Data Pribadi

Koalisi Advokasi Pelindungan Data Pribadi menuntut Rancangan Undang Undang (RUU) Perlindungan Data Pribadi segera disahkan. Sebab kebocoran data pribadi terus saja terjadi, kali ini data dari 6 juta rekam medis pasien milik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang dibocorkan dan dijual bebas di situs RaidForum.

Data pribadi tersebut mencakup data identitas pasien (mencakup alamat rumah, tanggal lahir, nomor ponsel, NIK) dan rekam medis (mencakup anamnesis atau data keluhan utama pasien, diagnosis dengan kode ICD 10 atau pengkodean diagnosis internasional, pemeriksaan klinis, ID rujukan, pemeriksaan penunjang, hingga rencana perawatan).

Direktur Eksekutif Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), Wahyudi Djafar menyayangkan kembali terjadinya kebocoran data pribadi. Sedangkan keseluruhan pemrosesan data pribadi pasien Covid-19 oleh Kemenkes merupakan bagian dari ruang lingkup penyelenggaraan sistem informasi kesehatan yang menggunakan sistem elektronik.

“DPR dan Pemerintah harus segera mempercepat proses pembahasan dan pengesahan RUU Pelindungan Data Pribadi, dengan tetap menjamin partisipasi aktif seluruh pemangku kepentingan, sekaligus juga kualitas substansinya,” kata Wahyudi dalam keterangan persnya, Jumat (7/1).

Ia memandang rentetan insiden penyalahgunaan data pribadi, termasuk yang melibatkan institusi publik, kian memperlihatkan pentingnya pembentukan otoritas pelindungan data pribadi yang independen. Hal ini guna menjamin efektivitas implementasi dan penegakan UU PDP nantinya.

“Tanpa adanya otoritas PDP yang independen, tentunya sulit untuk mencapai tujuan dari perlindungan data pribadi,” imbuhnya.

Untuk sementara ini, ELSAM meminta pemerintah terus mengoptimalkan keseluruhan regulasi dan prosedur yang diatur di dalam PP No. 71/2019 dan Permenkominfo No. 20/2016, untuk mengambil langkah dan tindakan terhadap berbagai kebocoran data pribadi warga negara ini.

Selama ini, menurut dia, terdapat beberapa instrumen hukum yang dapat dirujuk dalam kasus a quo, khususnya PP No. 46/2014 tentang Sistem Informasi Kesehatan (PP SIK), PP No. 71/2019 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik (PP PSTE), dan Permenkominfo No. 20/2016 tentang Perlindungan Data Pribadi dalam Sistem Elektronik (Permenkominfo 20/2016).

Namun berbagai peraturan tersebut, setiap pemrosesan data pribadi harus sesuai dengan prinsip pelindungan data pribadi, termasuk kewajiban memastikan keamanan data pribadi. Selain itu, dalam hal keamanan sistemnya, Kemenkes juga harus tunduk pada Perpres No. 95/2018 tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (Perpres SPBE).

Diakui dia, beberapa peraturan perundang-undangan tersebut masih menjadi rujukan awal untuk mengidentifikasi tingkat pelindungan data pribadi. Dari proses itu setidaknya akan dapat diketahui penyebab dari terjadinya kebocoran, dengan melihat mekanisme kepatuhan mana saja yang tidak diindahkan dalam pemrosesan data pribadi.

Namun yang tidak kalah penting, menurut dia, adalah langkah-langkah investigasi teknis keamanan siber lainnya, maupun kemungkinan terjadinya human error dalam pemrosesannya. Perlu langkah-langkah mitigasi yang harus dilakukan oleh pengendali dan pemroses data, untuk menghentikan kebocoran, serta tingkat pelanggaran yang dilakukan. “Maka akselerasi pembahasan RUU Pelindungan Data Pribadi menjadi penting disegerakan, untuk menghadirkan rujukan instrumen perlindungan yang komprehensif, sehingga mampu meminimalisir terus berulangnya insiden kebocoran data pribadi,” tegasnya.

Oleh: Amri Amrullah / Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Sumber: Republika, tanggal 8 Jan 2022

https://www.republika.co.id/berita/r5dmic349/kebocoran-data-rekam-medis-bukti-ruu-pdp-penting-segera-disahkan


Fasilitas Rekam Medis Elektronik Lebih Praktis

RSUD Sultan Fatah menjadi rumah sakit pertama yang sudah melakukan Rekam Medis Elektronik (RME). Hal tersebut diungkapkan oleh Plt. Direktur RSUD Sultan Fatah dr. Ribekan seusai acara Launching Rekam Medis Elektronik (RME) dan Bank Darah di Aula RSUD Sultan Fatah Demak. Selasa, (7/6/2022).

“Di demak ini ada lima rumah sakit dan kita menjadi yang pertama yang melakukan RME, harapan kami tentunya ini nanti kalau sudah fix jadi kita pindahkan ke RSUD sunan kalijaga kemudian di tiga rumah sakit swasta sehingga 5 rumah sakit yang ada di Demak ini bisa menggunakan RME.” kata Ribekan Plt. Direktur RSUD Sultan Fatah kabupaten Demak.

Data rekam medis yang sebelumnya tercatat secara manual, kini menuju paperless atau meminimalisir penggunaan kertas mengikuti perkembangan teknologi guna memberikan layanan lebih baik kepada masyarakat.

Manfaat adanya RME sendiri ini yaitu merubah yang dulunya menggunakan kertas sekarang ini menjadi paperless. Sehingga masyarakat kalau ke rumah sakit tidak harus pakai kertas rujukan nya.

“Jadi tidak harus menggunakan kertas yang bermacam-macam hanya dengan cukup datang kemudian menggunakan sidik jari, ini tentunya memudahkan aksesnya dan lebih canggih.” katanya.

Sementara itu manfaat juga berdampak kepada Dokter yang dahulu semuanya di tulis secara manual kini bisa dengan mengetik saja.

Dari sisi dokter ini juga ada manfaatnya, seperti halnya menulis resep, menulis dengan menggunakan tulisan tangan bisa mengalami adanya tulisan yang tidak terbaca, kemudian ada kesalahan dalam pemberian obatnya.

“Sementara dengan adanya rekam medis elektronik ini nanti insyaallah tidak ada masalah kepada pemberian obat karena semuanya serba ketikan semua bisa membaca.” Jelasnya.

Sementara mengenai Bank Darah yang ada di RSUD Sultah Fatah Ribekan mengaku kesulitan karena apabila membutuhkan darah itu harus pergi ke PMI atau ke RSUD Sunan Kalijaga.

“Bank darah kami memang kebutuhannya tinggi perbulan sekitar 60 dan sekarang sudah di atas 150, sehingga bank darah ini menjadi penting supaya masyarakat kalau butuh darah tidak harus ke PMI jauh-jauh, mulai hari ini semua stok sudah ada maka kami sudah siapkan semuanya disini.” tuturnya.

Dirinya berharap dengan adanya fasilitas Bank Darah yang ada di RSUD Sultan Fatah ini bisa menurunkan angka kematian yang ada di wilayah sekitar.

“Dengan adanya bank darah semoga kebutuhan masyarakat lebih terpenuhi dan tidak kekurangan darah lagi, harapannya kondisi darurat menurun dan angka kematiannya juga bisa menurun.” katanya.

Butuh Komitmen bersama untuk membangun dan bergerak menjalankan fasilitas RME dan Bank Darah. “Kami mohon bantuan semuanya dari rekan-rekan dokter, dan seluruh perawat, ppa lain dan karyawan, karena tanpa bantuan kalian semua kita tidak ada apa-apanya, butuh adanya kerjasama bersama, komitmen bersama.” tuturnya.

Oleh: MC Kab. Demak, Redaktur: Tobari

Sumber: Info Publik, tanggal 7 Juni 2022

https://infopublik.id/kategori/nusantara/638307/fasilitas-rekam-medis-elektronik-lebih-praktis#


Antrean Online Mengoptimalkan Pelayanan Kepada Pasien

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Murjani telah melakukan inovasi dengan menerapkan layanan antrean online bagi pasien. Diterapkannya layanan secara online di rumah sakit milik Pemkab Kotim itu setelah mendapat masukan dari Bupati Kotawaringin Timur, Halikinnor.

“Ketika saya melakukan sidak setelah lebaran Idulfi tri lalu di tempat pendaftaran rumah sakit pasien berjubel di satu tempat. Padahal ruangannya sudah cukup besar, tapi masih tetap saja penuh,” kata bupati.

Dia mengatakan, melihat hal itu, dia langsung meminta kepada pihak rumah sakit agar mengubah layanan ke layanan antrean online. Hal itu dilakukan agar tidak terjadi penumpukan pasien di ruang pendaftaran. Apalagi saat itu di tengah pandemi Covid-19.

“Sekarang rumah sakit Murjani sudah menerapkan dan antrean tidak berjubel lagi. Karena pasien bisa mendaftar dari rumah melalui handphone. Tidak harus datang ke rumah sakit nunggu lama hanya untuk mendaftar,” tukasnya.

Halikinnor menambahkan, dengan adanya antrean online ini dapat mengoptimalkan pelayanan kepada pasien karena seiiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi.

“Saya tekankan kepada pihak rumah sakit agar selalu berupaya meningkatkan pelayanan kesehatan bagi seluruh masyarakat melalui peningkatan kemampuan sumber daya manusia hingga sarana dan fasilitas pendukung lainnya,” tegasnya.

Halikinnor meminta, agar pihak rumah sakit terus mengembangkan sistem antrean online untuk memberikan kenyamanan bagi pasien yang berobat, kemudian informasi waktu tunggu yang lebih pasti kepada pasien, mengurangi penumpukan pasien diruang tunggu rumah sakit dan memberikan layanan yang terintegrasi di rumah sakit. “Saya ucapkan terima kasih kepada rumah sakit yang telah memudahkan masyarakat dalam memberikan pelayanan kesehatan,” katanya.

Sumber: Prokalteng.jawapos, tanggal 13 Juni 2022

https://prokalteng.jawapos.com/prometro/pro-kalteng/13/06/2022/antrean-online-mengoptimalkan-pelayanan-kepada-pasien/


Saatnya Menggenjot Pembayaran Non-Tunai di Rumah Sakit

Pembayaran tagihan di Rumah Sakit Umum (RSU) Adhyaksa kini dapat dilakukan secara non-tunai melalui layanan e-channel Bank DKI. Direktur Teknologi & Operasional Bank DKI Amirul Wicaksono menyampaikan, Bank DKI bekerja sama dengan RSU Adhyaksa menyediakan akseptansi sistem pembayaran non-tunai untuk pembayaran tagihan pasien rumah sakit di RSU Adhyaksa melalui beberapa kanal pembayaran yang sudah tersedia.

“Antara lain QRIS Bank DKI menggunakan JakOne Mobile dan JakOne Pay, ATM Bank DKI, teller hingga mesin EDC/MPOS. Dukungan sistem pembayaran non-tunai ini diharapkan dapat menghadirkan kemudahan bagi pengelola dan juga pengunjung rumah sakit,” kata Amirul usai menghadiri seremoni Launching Digitalisasi Sistem Pembayaran Rumah Sakit Umum Adhyaksa bersama Wakil Wali Kota Jakarta Timur Hendra Hidayat, dikutip Selasa (7/6/2022).

Selain itu, Bank DKI juga terus menghadirkan kemudahan bertransaksi bagi manajemen rumah sakit melalui cash management system yang dapat dipergunakan untuk melakukan monitoring dan transaksi keuangan secara realtime dan online. Melalui cash management system Bank DKI akan memudahkan RSU untuk mendapatkan informasi posisi dana dari waktu ke waktu dan memberikan kemudahan dalam bertransaksi melalui sistem perbankan setiap saat secara online sehingga pengelolaan arus dana dapat dilakukan secara cepat dan akurat.

Bank DKI terus mendukung program-program Pemprov DKI Jakarta dan BUMD, termasuk dalam penyelenggaraan ajang balap mobil listrik e-Formula (Jakarta e-Prix 2022) pada 4 Juni 2022. Dalam acara tersebut, Bank DKI juga memperkenalkan JakOne Pay sebagai aplikasi generasi muda milenial dan Gen Z yang dapat digunakan untuk melakukan berbagai transaksi sehari-hari. Aplikasi ini mendukung transaksi untuk melakukan scan to pay QRIS, serta aktivitas uang elektronik server based lainnya.

“Kami berharap dengan penyediaan berbagai varian layanan digital Bank DKI ini dapat semakin memudahkan masyarakat yang menginginkan berbagai kemudahan transaksi keuangan, cepat, praktis, dan aman,” jelas Amirul. Sampai dengan periode Mei 2022, transaksi QRIS melalui JakOne Mobile Bank DKI tumbuh 561% (yoy) menjadi Rp15 miliar dibanding periode Mei 2021 sebesar Rp2 miliar. Selain transaksi QRIS, sampai dengan Mei 2022, jumlah pengguna JakOne Mobile juga sudah mencapai 1,7 juta pengguna, dengan jumlah nominal transaksi mencapai Rp 1,3 triliun, serta volume transaksi mencapai 1,6 juta transaksi.

Oleh: I. Husni Isnaini

Sumber: SindoNews, tanggal 7 Juni 2022

https://ekbis.sindonews.com/read/791625/178/saatnya-menggenjot-pembayaran-non-tunai-di-rumah-sakit-1654614365


Agenda Utama The 1st G20 Health Ministers Meeting (HMM) Tahun 2022

Kementerian Kesehatan bersiap menggelar pertemuan pertama Menteri Kesehatan Negara Anggota G20 (The 1st G20 Health Ministers Meeting) di Daerah Istimewa Yogyakarta pada 20 Juni 2022. Pertemuan akan dilaksanakan secara hybrid dan dihadiri oleh Menteri Kesehatan negara anggota G20 serta undangan khusus seperti Direktur Jenderal WHO, CEO CEPI, Sekjen OECD, dan Direktur Eksekutif Global Fund dan GISAID.

Juru Bicara G20 Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi. M.Epid mengatakan pertemuan pertama ini bertujuan untuk menggalang dukungan dari Menteri Kesehatan G20 dalam upaya memperkuat sistem Kesehatan global serta penggalangan dana untuk menghadapi pandemi selanjutnya. Hal ini sejalan dengan tema besar Presidensi G20 yakni “Strengthening Global Health Architecture, with Building Global Health System Resilience and Mutual Recognition for International Mobility, and Manufacturing Hub and Research”, yang menekankan pada tiga isu prioritas.

Adapun ketiga isu penting yang dibahas dalam HMM adalah pertama, membahas langkah-langkah yang diperlukan untuk membangun ketahanan sistem kesehatan global, baik melalui penggalangan sumber dana dengan pembentukan Financial Intermediary Fund (FIF), penggalangan sumber daya dengan mekanisme yang lebih permanen, serta berbagi informasi dan data melalui konsep model GISAID+ untuk patogen yang berpotensi menimbulkan pandemi.

Isu prioritas kedua, membahas hasil pertemuan Health Working Group (HWG) pertama yakni harmonisasi mekanisme verifikasi sertifikat vaksin digital COVID-19 untuk mempermudah perjalanan internasional melalui pembuatan Federated Public Trust Directory antarnegara G20 berlandaskan Mekanisme Sertifikat COVID 19 yang sesuai dengan standar WHO.

Kemudian, isu prioritas ketiga, membahas langkah-langkah untuk menjamin pemerataan pengembangan dan pendistribusian vaksin, obat, maupun peralatan kesehatan dalam menghadapi pandemi selanjutnya.

“Kerja sama global sangat penting untuk mengatasi pandemi saat ini dan memastikan kita siap menghadapi pandemi selanjutnya. Untuk itu, pertemuan ini menjadi momentum penting bagi G20 untuk menggalang dukungan dalam rangka meningkatkan kapasitas sistem Kesehatan nasional, regional dan global,” kata dr. Nadia dalam konferensi pre-event the 1st G20 HMM pada Jumat (17/6).

Pada sesi selanjutnya HMM, Kementerian Kesehatan akan melaporkan hasil pertemuan side event tentang Tuberculosis, One Health dan Antimicrobial Resistance (AMR). dr. Nadia menjabarkan untuk side event TB, Presidensi Indonesia G20 tahun 2022 menawarkan kesempatan untuk memfokuskan kembali upaya untuk mengakhiri TB secara global, melalui penguatan komitmen untuk mempertahankan dan meningkatkan pendanaan serta mengadopsi metodologi yang lebih baru untuk mendanai upaya di tingkat global.

Side event One Health, Presidensi Indonesia G20 2022 menghadirkan peluang untuk mengimplementasikan komitmen negara G20 dalam rekomendasi yang berjudul “G20 Lombok One Health Policy Brief” untuk mencapai hasil nyata dalam implementasi One Health, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Selanjutnya pada side event AMR, Presidensi G20 Indonesia mengupayakan keberlanjutan Pelaksanaan Pencegahan dan Pengendalian AMR untuk mencapai Universal Health Coverage dan tujuan The Sustainable Development Goals (SDGs) pada tahun 2030.

Disamping kedua agenda utama tersebut, akan dilaksanakan Joint Finance and Health Ministers Meeting (JFHMM) pada 21 Juni 2022. Pertemuan ini merupakan pertemuan pertama antara Menteri Kesehatan dan Menteri Keuangan G20 serta WHO dan Bank Dunia yang akan mendiskusikan lebih lanjut mengenai pembiayaan untuk Prevention, Preparedness, dan Respons (PPR) yang lebih memadai, lebih berkelanjutan dan terkoordinasi dengan lebih baik melalui pembentukan FIF.

“Pertemuan pertama ini diharapkan tercapai satu kesepakatan terutama terkait pembentukan FIF menjadi badan permanen bukan adhoc dalam rangka kesiapan kita menghadapi pandemi ke depannya,” kata dr. Nadia.

Pihaknya menjelaskan FIF merupakan satu mekanisme pembiayaan baru yang paling efisien, efektif serta inklusif untuk menghilangkan kesenjangan pembiayaan PPR yang mana setiap negara di dunia dapat mengakses pembiayaan tersebut.

“Proposal ini harus dipatuhi sebagai prinsip utama dan menghindari duplikasi mekanisme yang telah ada, dan memastikan keanggotaan FIF ini bersifat inklusif, agile dan dapat beradaptasi terhadap berbagai perubahan,” tutur dr. Nadia.

Pembentukan FIF dirancang dan disusun oleh WHO dan Bank Dunia. Proposal akan terus dikembangakan dan diperbaharui berdasarkan usulan dan diskusi negara anggota G20 pada pertemuan the 1st JFHMM. Karenanya, dr. Nadia menggarisbawahi pentingnya pertemuan JFHMM sebagai bagian dari komitmen bersama dari negara G20 untuk memperkuat arsitektur kesehatan global melalui penggalangan dana untuk pembentukan FIF.

Saat ini, sejumlah negara telah menyampaikan komitmennya untuk kontribusi ke FIF, diantaranya AS (450 juta USD), Uni Eropa (450 juta USD), Jerman (50 juta EURO), Indonesia (50 juta USD), Singapura (10 juta USD) dan Wellcome Trust (10 juta Poundsterling). Jumlah ini diharapkan akan terus bertambah seiring dengan pertemuan JFHMM di Yogyakarta.

“Negara G20 akan mengumpulkan pendanaan untuk pembentukan FIF dan mendorong komitmen negara lainnya,” pungkas dr. Nadia.

Hotline Virus Corona 119 ext 9. Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi nomor hotline Halo Kemenkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email [email protected] (MF)

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik

drg. Widyawati, MKM

Oleh: Rokom

Sumber: Kemkes, tanggal 17 Juni 2022

https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20220617/5440198/agenda-utama-the-1st-g20-health-ministers-meeting-hmm-tahun-2022/


Para Menteri Kesehatan ASEAN dan AS Bekerja Sama Untuk Memperkuat Sistem Kesehatan

Para Menteri Kesehatan negara-negara ASEAN bekerja sama dengan Amerika Serikat untuk mengembangkan dan memperkuat sistem kesehatan, kata Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers secara daring pada Pertemuan Para Menteri Kesehatan ASEAN ke-15, hari Minggu.

Selama acara khusus Pertemuan Tingkat Menteri Kesehatan ASEAN-AS, para menteri kesehatan sepakat untuk membahas dan menerapkan Kerangka Acuan ASEAN-AS dan mengembangkan rencana kerja tiga tahun, katanya.

Dalam pertemuan tersebut, para menteri sepakat untuk memperkuat tiga aspek, yang pertama terkait penguatan sistem kesehatan untuk situasi darurat.

“(Ini bertujuan) untuk mencegah pandemi di masa yang akan datang,” jelasnya.

Aspek kedua adalah pengembangan sistem kesehatan yang melibatkan sumber daya manusia. Sistem kesehatan yang tangguh dan merata harus disertai tersedianya tenaga kesehatan yang terlatih dan berkinerja baik.

“Sumber daya manusia menjadi perhatian AS. Mereka sangat ingin mengembangkan sumber daya manusia,” kata Gunadi.

Untuk itu, ASEAN dan AS berupaya meningkatkan kapasitas dan jumlah tenaga kesehatan sekaligus memastikan relevansi kualitasnya untuk memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat.

Aspek ketiga terkait dengan penguatan sistem informasi dan data untuk mendukung pengembangan vaksin, terapi, dan produksi alat diagnostik lokal.

Untuk melaksanakan hal ini, para menteri sepakat untuk melakukan transfer teknologi dan pengetahuan sekaligus meningkatkan pengembangan dan kapasitas peneliti.

AS berkomitmen untuk secara khusus membantu negara-negara ASEAN dalam tiga aspek tersebut di atas, kata Menkeu.

Ia berharap konsep kerjasama regional sektor Kesehatan di negara ASEAN dengan mitra kerja akan mengembangkan dan memperkuat sistem kesehatan tidak hanya untuk negara-negara anggota ASEAN tetapi juga untuk Amerika Serikat.

“Setelah Rencana Kerja Bidang Kesehatan ASEAN-AS ditetapkan, Indonesia siap berkontribusi dalam mencapai prioritas yang telah ditetapkan,” ujarnya. “Saya percaya bahwa keahlian, pengetahuan, dan pengalaman AS akan bermanfaat bagi masa depan bidang Kesehatan ASEAN,” katanya.

Oleh: Zubi Mahrofi, Fadhli Ruhman, Editor: Fardah Assegaf

Sumber: Antara News, tanggal 16 Mei 2022

https://en.antaranews.com/news/229673/asean-health-ministers-us-cooperate-to-strengthen-health-system


Saatnya Menyongsong Masa Depan di Ruang Operasi: Kolaborasi

Meskipun AI (Artificial Intelligence – kecerdasan buatan) memiliki kemampuan transformatif yang signifikan dan operasi otomatis yang sepenuhnya dijalankan robot merupakan sesuatu yang diharapkan dicapai di industri kita, ada banyak hal yang dapat kita capai terkait AI saat ini. Hal ini berarti para ahli teknologi perlu berkolaborasi dengan penyedia layanan kesehatan untuk menyesuaikan pendekatan kami untuk menerima AI.

Mungkin terdengar ironis jika seorang ahli bedah saraf mengatakan ini, tetapisesungguhnya penggunaan kecerdasan buatan dalam kedokteran tidak harus selalu operasi otak. Hampir setengah dari ruang operasi sudah siap untuk melakukan integrasi dengan AI. Dan sementara potensi kemajuan AI dalam layanan kesehatan mendapat banyak perhatian ketika para penanam modal ventura berduyun-duyun berinvestasi ke aplikasi yang menjanjikan, inilah saatnya untuk membahas bagaimana kita dapat mencapai transformasi AI dalam layanan kesehatan dengan melibatkan dokter yang mengetahui potensi AI (dan percaya atas manfaatnya) dari sudut pandang baik dokter dan pasien.

Aplikasi AI dalam lingkungan klinis memiliki kekuatan untuk menganalisis beberapa variabel yang saling berkaitan yang sangat rumit, dan memahami urutan kejadian atau variabel pasien. Tujuan utama dari pendekatan kami perlu difokuskan pada peningkatan hasil kesembuhan pasien, membuat layanan kesehatan lebih mudah diakses dan mengurangi biaya secara keseluruhan. Kami juga harus terlibat dengan dokter yang menggunakan teknologi — ahli bedah dan teknisi medis yang merupakan perancang data dari profesi kami. Perkembangan AI untuk bedah saat ini mencerminkan momentum dari para ahli teknologi dan inovator data, tetapi upaya mereka belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan pengguna akhir. Meskipun AI memiliki kemampuan transformatif yang signifikan dan operasi otomatis yang sepenuhnya dijalankan robot merupakan sesuatu yang diharapkan dicapai di industri kita, ada banyak hal yang dapat kita capai terkait AI saat ini. Hal ini berarti para ahli teknologi perlu berkolaborasi dengan penyedia layanan kesehatan untuk menyesuaikan pendekatan kita untuk menerima AI.

Pesannya jelas: AI akan terus menjadi pelopor inovasi dalam bisnis – dan masih menjanjikan perubahan besar di masa depan. Tujuh puluh dua persen pemimpin bisnis percaya bahwa teknologi AI adalah merupakan suatu “keuntungan bisnis” sehingga tidak mengherankan bahwa perusahaan seperti Amazon, Callaway, Nike, Starbucks, dan lainnya memanfaatkan teknologi ini dalam model bisnis mereka. Amazon menggunakan AI untuk membuat rekomendasi produk yang dipersonalisasi untuk pelanggan dan memiliki Alexa – pesan belanja yang dioperasikan dengan suara yang dapat memprediksi kebutuhan pelanggan. Sementara itu perusahaan golf Callaway menggunakan AI untuk memperpanjang gerakan dan meningkatkan kecepatan bola, mengklaim teknologi mereka dapat menganalisis 10.000 pengulangan melalui pembelajaran mesin.

Bagaimana AI dapat dimanfaatkan secara khusus pada area operasi tulang belakang?

Hasil secara klinis dan dari segi finansial operasi tulang belakang saat ini bervariasi berdasarkan sejumlah masukan termasuk dari ahli bedah, pendekatan bedah, fasilitas kesehatan, dan implan yang digunakan, bahkan ketika tipe dan kondisi pasien sama. Tujuannya adalah untuk mengumpulkan, menganalisis, dan akhirnya meresepkan pengobatan terbaik untuk pasien yang akan mengoptimalkan hasil secara klinis dan dari segi finansial. Karena situasi seperti ini memiliki begitu banyak masukan, kita perlu menggunakan AI untuk menentukan pendekatan terbaik dan untuk melakukannya, kita harus mengumpulkan data operasi.

Diperkirakan bahwa pasar AI untuk operasi akan mencapai $225,4 juta pada tahun 2024, naik dari $69,1 juta pada tahun 2019. Namun, terlepas dari peluang signifikan seperti ini, masih ada jurang pemisah antara AI dan sistem layanan kesehatan. Misalnya, raksasa teknologi Google telah tersandung beberapa kali dengan rencananya untuk ‘memperluas kekuatan AI dalam kedokteran’ dengan menggunakan teknologi AI untuk mengatasi kekurangan dokter secara global, meningkatkan akses ke pencitraan modern dan alat diagnostik, analisis genom, rekam medis elektronik, dan deteksi lanjutan untuk penyakit yang mengancam jiwa. Tidak ada kekurangan aspirasi dalam hal penggunaan AI di teknologi medis, tetapi jelas ada kekhawatiran bahwa AI terlalu dilebih-lebihkan dan kurang memberikan manfaat yang seharusnya dapat dicapai di bidang kesehatan ini – terutama tanpa kolaborasi yang berarti dari semua pemangku kepentingan.

Teknologi tinggi: Masa depan tinggi

Seringkali ketika orang berpikir tentang masa depan AI dalam dunia kedokteran, mereka membayangkan persepsi yang didramatisasi dan terinspirasi Hollywood tentang operasi yang melibatkan robot yang sepenuhnya menjalankan operasi tanpa bantuan manusia. Memang benar bahwa industri teknologi memang memiliki kecenderungan untuk membayangkan masa depan kedokteran yang sepenuhnya dijalankan AI, tanpa dokter. Namun, AI bukanlah solusi yang dapat berdiri sendiri, dan semakin banyak tenaga medis yangdapat secara langsung menekankan pentingnya kolaborasi dan koordinasi antara teknologi AI dan para profesional medis yang akan menggunakannya, AI dimasa depan akan semakin efektif dan dipahami. AI di ruang operasi akan terus membutuhkan intervensi manusia untuk memastikan bahwa AI digunakan dengan benar, untuk memverifikasi hasil, dan untuk menyelesaikan masalah yang mungkin terjadi. Mengembangkan kemitraan dan membangkitkan minat terhadap solusi AI dengan orang-orang yang bekerja di ruang operasi yang akan menggunakan produk ini adalah kunci inovasi yang berarti dan mendorong hasil pengobatan kesehatan yang lebih baik.

Contoh kolaborasi tersebut adalah kemitraan antara para dokter di Mayo Clinic dan IBM. Mayo Clinic telah menggunakan AI dengan cara yang berbeda selama 30 tahun terakhir. Mereka telah bereksperimen dengan pengoptimalan alur kerja, pemrosesan bahasa alami, dan manajemen uji klinis. Pada tahun 2014, Mayo Clinic bermitra dengan platform AI IBM Watson untuk mengembangkan sistem komputasi kognitif untuk meningkatkan daftar dalam uji klinis onkologi. Dengan begitu banyak uji klinis yang sedang berlangsung yang terjadi pada waktu tertentu, merupakan suatu tantangan bagi penyedia layanan kesehatan untuk menyadari semuanya dan memberikan pasien mereka pilihan yang sesuai untuk kondisi mereka. Dengan AI, mereka mampu menarik informasi terkait ke garis depan dan meningkatkan jumlah subjek penelitian di tiga kelompok kanker di mana AI sedang diuji.

Hal ini menggambarkan adanya potensi luar biasa bagi raksasa teknologi untuk berkolaborasi dengan ahli bedah untuk mengembangkan solusi AI dalam layanan kesehatan, tetapi hal ini tidak mudah. Misalnya, terlepas dari pengembangan dan kolaborasi selama beberapa dekade dengan penyedia layanan kesehatan, solusi Watson AI IBM belakangan terbukti tidak menguntungkan dan dijual terpisah-pisah seharga sekitar $1 miliar. Sementara Google menutup layanan rekam medisnya hanya setelah tiga tahun, mereka beralih ke arah yang berbeda, dan sekarang mengeksplorasi penggunaan ponsel pintar dan AI untuk memantau kesehatan jantung dan mata. Kita telah membangun fondasi untuk mengembangkan teknologi baru di seluruh industri selama beberapa dekade dan inilah saatnya untuk menerapkan apa yang telah dipelajari dari pengembangan coba-coba tersebut. Kita semua tahu bahwa inovasi dapat menimbulkan gejolak, tetapi dengan menerapkan apa yang telah kita pelajari dari kesalahan ini dan memanfaatkan keahlian antara perusahaan teknologi dan ahli bedah, kita dapat mengembangkan solusi yang berarti untuk meningkatkan hasil kesembuhan pasien dan bisnis secara menyeluruh.

Ahli bedah siap memanfaatkan peluang yang diberikan oleh teknologi AI. Layanan kesehatan beroperasi dalam lingkungan multi-matriks di mana sulit untuk mencapai target dan mempertahankan margin. Para ahli bedah memahami lingkungan yang kompleks ini jauh lebih baik daripada siapa pun dari luar bidang ini. Tetapi agar berhasil, AI perlu mendorong manfaat dalam sistem layanan kesehatan. Bagaimana kita menggunakan data harus berdampak pada hasil kesembuhan pasien dan dari segi finansial untuk perawatan kesehatan. Para ahli teknologi yang berupaya meningkatkan operasi membutuhkan ahli bedah – tidak hanya untuk membeli teknologinya, tetapi juga untuk membantu mengembangkannya. Mereka perlu melibatkan para ahli bedah di tahap awal inovasi. Mereka perlu memahami kompleksitas bidang layanan kesehatan – baik di sisi perawatan pasien maupun di sisi inovasi produksi. Inilah waktunya kolaborasi antara dokter dan ahli teknologi untuk serius dalam inovasi AI di bidang kedokteran – para dokter sudah siap dan bersedia bekerja sama.

Dr. Samuel Browd adalah Co-founder dan Chief Medical Officer di Proprio, Profesor Bedah Neurologis di University of Washington, dan ahli bedah saraf bersertifikat di Seattle Children’s Hospital, Harborview Medical Center dan University of Washington (UW)Medical Center. Beliau menerima gelar MD, Ph.D. di University of Florida, menyelesaikan residensi bedah saraf di University of Utah, dan Pediatric Neurosurgery Fellowship di University of Washington/Seattle Children’s Hospital. Beliau juga menyelesaikan penelitian pasca-doktoral perhimpunan mengenai pencitraan resonansi magnetik fungsional dan navigasi operasi

Oleh: Dr. Samuel Browo

Sumber: MedCityNews, tanggal 14 Juni 2022

https://medcitynews.com/2022/06/its-time-to-meet-the-future-of-the-or-collaborators/

Subscribe to get the latest medical information from us

Meminta Demo